Puskesmas Mlati I Luncurkan Inovasi “TAWA PANIC” untuk Penanganan COVID-19 Di Indonesia

Puskesmas Mlati I Luncurkan Inovasi “TAWA PANIC” untuk Penanganan COVID-19 Di Indonesia

Puskesmas adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan. Di masa pandemi  COVID19 Puskesmas berperan sebagai garda terdepan pemutus rantai penularan COVID19. Untuk mengoptimalkan peran tersebut, Puskesmas Mlati I  membuat sebuah Inovasi  “TAWA PANIC” (Tanggap dan Lawan Pandemi COVID19). Tawa Panic ini menitik beratkan pada tanggap dan lawan, artinya Puskesmas Mlati I dengan sigap mengurangi risiko bencana COVID19, yaitu dengan mensinergikan penguatan  UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan), baik secara fisik maupun penyiapan SDM (Sumber Daya Manusia). Dengan perpaduan antara kekuatan UKP dan UKM, diharapkan dapat meminimalisir penyebaran COVID19.

Kegiatan diawali dengan penyiapan SDM, sarana dan prasarana. Penyiapan SDM dilakukan dengan pengaturan tugas, bimbingan teknis terkait layanan kesehatan dan PPI (Pencegahan Penyakit Infeksi), serta penyiapan mental bagi karyawan. Selain itu kami juga berupaya merubah perilaku dan kebiasaan petugas maupun pasien untuk taat pada protokol kesehatan.

Pada area UKP  kegiatan meliputi pemisahan pasien panas, batuk, pilek, dan sesak napas, perubahan alur layanan,  penguatan PPI  (Pencegahan Penyakit Infeksi). Serta  pengelolaan limbah medis.

Pada area UKM kami melakukan edukasi secara intensif kepada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk taat pada protokol kesehatan, serta penguatan surveilan, guna memutus rantai penularan COVID19.

dr. Ernawati selaku Kepala Puskesmas Mlati I mengatakan dengan inovasi Tawa Panic ini diharapkan dapat memutus mata rantai dan meminimalisir penyebaran virus COVID19, sehingga pandemi COVID19 segera berakhir. Selain itu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk taat berperilaku hidup bersih dan sehat. Dan menguatkan mental petugas kesehatan dalam mengatasi pandemi COVID19.

Tentu dalam menjalani inovasi ini ada risiko dan tantangan yang hadapi. Menurut Ernawati tantangan yang selama ini dihadapi petugas medis yakni petugas puskesmas langsung berhubungan dengan pasien dan masyarakat, maka risiko terbesar adalah kemungkinan tertular penyakit. Oleh karena itu APD dan sistem pencegahan penyakit infeksi harus diperkuat dan harus memenuhi standart. Tingginya stigma masyarakat terhadap seseorang yang terkait dengan kasus COVID19, maka tenaga kesehatan dituntut untuk mampu memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghilangkan stigma. Merubah perilaku masyarakat bukan hal yang mudah, perlu edukasi secara intensif dan berulang-ulang.